BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Rabu, 11 Januari 2017

Antithesa yang Memblunder Pada Gerakan Mahasiswa Era 1990-an


Apa yang menjadi ciri khas krusial dari pola ideologis perjuangan aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an? Mengapa harus jatuh pada pilihan yang lebih spesifik kepada Gerakan Mahasiswa era 1990-an? Mengapa tidak langsung mengarah yang lebih ideal kepada Gerakan Mahasiswa di era Orde Baru mengingat pada era 1970-an juga telah lahir peristiwa Gerakan Mahasiswa yang pernah menorehkan peristiwa sejarah berskala nasionalnya seperti peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 yang dikenal dengan peristiwa Malari dan Insiden Berdarah 1978 di kampus ITB?


Ada tiga alasan untuk menjawab persoalan mengapa saya menjatuhkan pilihan kepada Gerakan Mahasiswa era 1990 an. Pertama, era 1990-an merupakan tahun-tahun keterlibatan saya yang mulai terjun ke politik praktis sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa. Kedua, era 1990-an merupakan proses alot dari kebangkitan Mahasiswa Indonesia yang mulai memberanikan diri untuk terjun ke politik praktis sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa yang sebelumnya semangat keberaniannya belum pernah terwujud setelah rezim Orde Baru melakukan tindakan represif pada aktivis Gerakan Mahasiswa sejak terjadinya insiden berdarah 1978 di kampus ITB. Ketiga, era 1990-an merupakan tahun-tahun kebangkitan revolusi demokratisasi berskala global, termasuk di Indonesia, di mana mahasiswa bersama rakyat di berbagai negara yang masih menerapkan sistem otoriter mulai melakukan revolusi perlawanan menuntut perubahan ke sistem reformasi.

Tentunya setiap aktivis mempunyai subyektifitas pendapatnya sendiri-sendiri terhadap pemahaman ciri khas krusial dari pola ideologis perjuangan Gerakan Mahasiswa era 1990-an ini, sedemikian juga dengan saya juga mempunyai pendapat sendiri yang didasari dari kesaksian selama saya intens terlibat secara empiris sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa. Sudah menjadi kebiasaan saya setiap harinya bila melakukan aktivitas selalu meluangkan kesempatan untuk menuangkan catatan harian saya. Dari semua catatan harian saya inilah telah terekam segala aktivitas yang menyangkut diskusi-diskusi, rapat-rapat pertemuan dan statement-statement apa saja yang menjadi pokok-pokok pemikiran kawan-kawan aktivis sehingga dapat ditarik kesimpulan apa yang menjadi ciri khas krusial dari pola ideologis perjuangan Gerakan Mahasiswa era 1990-an?

Asal Bukan Suharto

Ciri khas yang menjadi pola ideologis perjuangan aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an tiada lain Asal Bukan Suharto. Suharto sudah dijadikan icon musuh dalam setiap aksi perlawanan para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an. Apa saja yang menyangkut Suharto dan segala atributnya telah dijadikan sebagai biang kerok kehancuran Demokrasi di Indonesia selama 32 tahun. Meminjam istilah dari Nuku Sulaiman menyebutkan Suharto Dalang Segala Bencana (yang merupakan plesetan dari akronim SDSB). Setiap konotasi yang misalnya berkaitan dengan istilah sebutan Orde Baru, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Kapitalisme, Pendekatan Keamanan, Stabilitas Ekonomi, Stabilitas Politik, Pembangunan, Pertumbuhan Ekonomi, Keluarga Berencana (KB), Penataran P-4, Asas Tunggal Pancasila, Transmigrasi, Keluarga Cendana, Konglomerat, Pangkomkamtib, Litsus dan Golongan Karya (Golkar) diidentikkan sebagai atribut yang tidak terpisahkan dari sebuah rezim Suharto yang harus mendapat perhatian untuk dikoreksi dan dilawan.

Sebaliknya segala antonim peristiwa yang menjadi antithesa dari rezim Suharto justru mendapat respon positif dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an. Berbagai jargon istilah yang menjadi musuh rezim Suharto selalu direspon negatif sebagai kebijakan yang patut untuk dikaji atau dikritisi kembali, tegasnya tidak perlu untuk dirisaukan sebagai musuh atau lawan.  Setiap konotasi yang misalnya berkaitan dengan istilah sebutan Bahaya Laten, Ekstrim Kanan dan Kiri, Petisi 50, Mbalelo (istilah dari Suharto untuk menyebut rakyat yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan pembebasan tanah), Anti Subversib, Organisasi Terlarang, Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Tahanan Politik (Tapol) dan Narapidana Politik (Napol) sudah diidentikkan sebagai jargon-jargon istilah dari rezim Suharto untuk mengeliminasi lawan-lawan politiknya demi mempertahankan status quo kekuasaannya.

Semangat anti Suharto sudah diidentikkan sebagai semangat yang ada pada aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an. Ukuran untuk menentukan kawan dan lawan harus dilihat apakah memiliki militansi perjuangan anti Suharto atau tidak. Tegasnya ketika itu target yang menjadi musuh hanya satu, Asal Bukan Suharto. Target perjuangan Asal Bukan Suharto inilah ciri khas yang dimiliki oleh para kawan aktivis dari berbagai kepentingan ideologi yang berbeda ternyata sanggup bersatu menjadi kawan senasib seperjuangan. Bayangkan betapa kawan-kawan aktivis yang mengusung ideologi Islam Radikal untuk sementara bisa bermesraan dengan kawan-kawan aktivis dari kubu Nasionalis dan Sosial Demokrat. Kawan-kawan Aktivis yang mengusung kemerdekaan Timor Leste, Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk sementara bisa saling bermesraan. Tegasnya setiap cita-cita perjuangan yang awalnya dilandasi dengan militansi Asal Bukan Suharto sebagai frame perjuangannya maka semangat anti Suharto dijadikan ciri khas sebagai kawan senasib seperjuangan.

Kekawatiran Jika Terjadinya Kondisi Pasca Suharto

Sejak tahun 1992 melalui perdebatan antar kawan aktivis sendiri pada setiap acara diskusi internal, kondisi Asal Bukan Suharto ini sudah saya koreksi sebagai pesan krusial kekawatiran saya jika mendadak kondisi sistem kekuasaan negara sudah beralih bukan kepada kekuasaan Suharto lagi. Boleh jadi sekarang ketika rezim masih di bawah kekuasaan Suharto, sesama kawan-kawan aktivis dengan berbagai kepentingan atribut ideologi yang berbeda sanggup bersatu sebagai kawan senasib seperjuangan. Tapi pernahkah kita berpikir sebaliknya bagaimana jika kelak target tuntutan perjuangan Asal Bukan Suharto benar-benar telah terwujud? Apakah target tuntutan perjuangan Asal Bukan Suharto dapat mengantarkan Indonesia Tanpa Orde Baru

Kekawatiran saya bukan lahir dari phobia yang berlebihan tanpa alasan mengingat Suharto sebagai sang maker tunggal terciptanya tatanan sistem Orde Baru selama 32 tahun, maka boleh jadi setelah Suharto lengser dari kursi kekuasaan, tetapi tidak sedikit para kroni dan pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru tentunya tidak tinggal diam dan pasti akan membuat manuver-manuver politik berupa strategi perlawanan untuk mencari pengikut dan menciptakan pola perjuangan devide et impera dengan dalih konflik horisontal sebab Bangsa Indonesia yang multikultural tentunya sangat mudah dimainkan jika sesama Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) dibenturkan demi untuk pengalihan isu yang lebih besar.

Kawan sesama aktivis yang mengusung ideologis separatis seperti OPM dan GAM yang dulu frame perjuangannya Asal Bukan Suharto, tapi setelah kondisi kekuasaan mengalami peralihan ke pasca Suharto, maka mereka dapat begitu mudah ditunggangi untuk membuat kegaduhan separatis berskala nasional. Belum lagi kawan-kawan aktivis yang mengusung ideologi Syariat Islam yang dulu frame perjuangannya Asal Bukan Suharto, tapi setelah kondisi kekuasaan mengalami peralihan ke pasca Suharto, maka mereka akan mudah ditunggangi untuk berjuang mewujudkan cita-cita Negara Islam Indonesia. Sementara kawan-kawan aktivis yang berideologis Nasionalis dan Sosial Demokrat tentunya akan melakukan penolakan terhadap kawan-kawan aktivisnya yang mengusung ideologis separatis dan Syariat Islam, sehingga boleh jadi aksi penolakan ini pun dapat ditungangi untuk dibenturan dengan dalih konflik horisontal.

Kekuatan Gerakan Mahasiswa era 1990-an yang membawa frame perjuangan Asal Bukan Suharto tidak dapat disejajarkan dengan kekuatan yang ada pada semangat Gerakan Mahasiswa Angkatan 1966 yang membawa frame perjuangan Asal Bukan Sukarno. Jika Gerakan Mahasiswa 1990-an sebagai sang maker inti tunggal yang mempunyai hajat Asal Bukan Suharto sebagai frame perjuangannya, tapi berbeda dengan peta politik yang terjadi pada Gerakan Mahasiswa angkatan 1966, di mana kekuatan sebagai sang maker inti tunggal yang mempunyai hajat Asal Bukan Sukarno tiada lain Suharto sebagai orang nomor satu yang membawa kekuatan garis komando di tubuh militer Angkatan Darat yang mendapat dukungan dari Gerakan Mahasiswa angkatan 1966 dan kekuatan elemen rakyat yang anti Sukarno. Kondisi Asal Bukan Sukarno inilah yang puncak akumulasinya kemudian dapat menghapus sistem Orde Lama Sukarno secara sistematis dan massif melalui strategi pembiaran dan pembenaran terhadap pembantaian tiga juta anak bangsa sendiri yang diindikasikan sebagai pengikut Sukarno (Robert Cribb, 2005).

Kekawatiran Terbukti Setelah Kondisi Pasca Suharto

Sejak awal sudah saya sebutkan di atas bahwa kawan-kawan aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an memiliki berbagai kepentingan ideologi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Meskipun semangat militansinya sama-sama sebagai Asal Bukan Suharto, tapi tidak ada kekuatan krusial yang sanggup mengantarkan Indonesia Tanpa Orde Baru. Ini artinya, boleh jadi Suharto sudah tidak memiliki kekuasaan lagi, tapi para pengikut Suharto masih mempunyai peranan di sana-sini untuk mempengaruhi dan menunggangi para kelompok yang mempunyai andil dalam setiap peranan kehidupan berpolitik. Belum lagi dari kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang masih aktif, yang notabene sudah 32 tahun terbina secara solid, sistematis dan massif tentunya tidak begitu mudah mengikis peranan figur Suharto yang tertanam dalam diri setiap prajurit.

Kekuatan Gus Dur sebagai Presiden pun tidak kuasa menghadapi kekuatan-kekuatan yang tersembunyi dari peranan para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru ini. Tidak dipatuhinya Dekrit Presiden hingga diberhentikannya Gus Dur di tengah jalan sebelum masa tugasnya habis sebagai Presiden telah membuktikan betapa masih kuatnya sistem Orde Baru yang masih tertanam pada para pengikut Suharto. Peranan Gus Dur sebagai figure Islam yang pluralis tentunya akan dibenturkan dengan kelompok Islam yang dulu pernah menolak Asas Tunggal Pancasila dan anti komunis. Dibukanya ruang berkumpul dan berserikat yang dulu tidak pernah terjadi pada kekuasaan Suharto, justru oleh para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru telah memanfaatkan situasi dengan mendanai kelompok-kelompok Islam intoleran anti pluralis dan anti komunis untuk membentuk wadah organisasi masyarakat.

Kondisi masih kuatnya para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru inilah yang telah membuat Indonesia tidak bisa keluar dari masa kritis, bahkan boleh jadi Indonesia berada dalam tungku sekam membara yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja dalam konflik horisontal tanpa berkesudahan. Konflik horisontal bernuansa SARA sengaja diciptakan di sana-sini oleh kekuatan para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru untuk memecah belah konsentrasi elemen kekuatan yang mengusung kekuatan anti Orde Baru. Konklusinya oleh karena begitu kuatnya para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru memainkan peranannya, maka tidak satu pun kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa rezim Suharto dapat tuntas terselesaikan seperti kasus genosida pasca 1965, Talangsari, Tanjung Priok, Marsinah, pembunuhan wartawan Bernas Udin, penculikan aktivis dan pembunuhan mahasiswa Trisakti.

Bahkan kasus pembunuhan aktivis Munir yang terjadi di era pasca 1998 tepatnya pada pemerintahan Megawati justru telah membuktikan betapa masih kuatnya para pengikut Suharto yang merasa diuntungkan oleh sistem Orde Baru yang telah memainkan peranannya dalam era sistem Reformasi pasca Suharto. Gejala ini justru mengingatkan kepada kita semua yang masih menanamkan semangat anti Suharto, betapa Suharto sebagai figure an-sich dapat mati, tetapi semangat sistem Orde Baru pada para pengikut Suharto masih terus bergelora dan tidak akan pernah mati. Semakin banyaknya ormas yang membawa misi perjuangan intoleran dan anti pluralis yang semakin tahun semakin berkembang biak dan beranak pinak ke tengah khayalak masyarakat Indonesia telah membuktikan betapa ruang gerak penegakan Demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan semangat anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang dijadikan lokomotif cita-cita sistem Reformasi semakin sempit dan nyaris tidak ada ruang lagi.

Kalau kondisinya sudah corat-marut seperti ini, di mana Indonesia sudah mengalami pergantian Presiden sebanyak lima kali dari Prof.Dr.H.Bacharuddin Jusuf Habibie alias BJ Habibie, Dr.K.H.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Dr.Hj.Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri alias Megawati Sukarnoputri, Jend.TNI (Purn) Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY sampai Ir.H.Joko Widodo alias Jokowi selama dalam era pasca 1998, tapi kondisi yang terjadi di mana penegakan Demokrasi, HAM dan semangat anti KKN yang dijadikan lokomotif dari cita-cita sistem Reformasi justru selalu berakhir kandas sebagai potret wacana yang clemang-clemong tanpa berkesudahan. Kondisi ini justru mengingatkan kepada prediksi kekawatiran saya ketika saya masih intens terlibat sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an betapa apa yang telah diperjuangkan oleh Gerakan Mahasiswa era 1990-an yang mengusung semangat Asal Bukan Suharto sebagai frame perjuangannya betul-betul telah mengalami antithesa yang memblunder dalam dirinya.

Salam,

Joe Hoo Gi
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *