BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Kamis, 05 November 2015

Perempuan Target Korban Dalam Setiap Tragedi Politik Di Indonesia (Studi Kasus Tragedi 1965 dan 1998)


Sejarah telah mencatat betapa dari awal terbentuknya dan hingga berakhirnya rezim otoriter Orde Baru (1966-1998) selalu melibatkan petaka peristiwa kekerasan seksual kepada perempuan sebagai korban kejahatan kemanusiaan.

Ketika Soeharto memulai karirnya sebagai rezim otoriter Orde Baru telah diwarnai Tragedi 1965 di mana tidak sedikit perempuan Indonesia yang dikonotasikan sebagai Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) telah menjadi korban bulan-bulanan kejahatan kemanusiaan berupa kekerasan seksual. Sedemikian ketika Soeharto mengakhiri karirnya sebagai rezim otoriter Orde Baru juga diwarnai Tragedi 1998 di mana tidak sedikit perempuan Indonesia dari etnik Tionghoa juga menjadi korban bulan-bulanan kejahatan kemanusiaan berupa kekerasan seksual.


Tragedi huru-hara yang terjadi di Jakarta 13-14 Mei 1998 tidak hanya berhenti sampai pada tindakan pembakaran dan penjarahan. Tragedi huru-hara ini juga diwarnai adanya tindakan kekerasan seksual yang sistematis kepada ratusan perempuan etnis Tionghoa di Jakarta yang telah menjadi korban pelecehan sekaligus perkosaan secara massal dan brutal. Para korban tidak saja mendapat perlakuan pelecehan dan perkosaan, tapi ada juga korban dibunuh setelah diperkosa. 

Tidak sedikit korban mengalami depresi atau psikis berat akibat trauma. Para korban hanya memendam dalam ketakutan dan kesunyian tanpa ada keberanian untuk melapor. terhadap hal ini para relawan bersikap pro aktif mencari para korban, mengunjungi setiap rumah sakit dan membuka hotline. Sejauh ini tim relawan sudah mengidentifikasi ada 50 kasus. Berikut sejumlah kasus korban kekerasan seksual yang dialami oleh kaum perempuan etnik Tionghoa di Jakarta yang telah diidentifikasi oleh Divisi Perempuan dari tim relawan yang terdiri dari berbagai LSM yang punya kepedulian terhadap nasib korban, yang dituturkan koordinatornya Ita Nadia.

Ketika para pegawai pulang naik bis didalam bis, penumpang di pilah-pilah. Para penumpang Cina disuruh turun, disuruh membuka baju dan disuruh jalan berbaris. Mereka digiring ke padang ilalang dipinggir jalan untuk dipilah-pilah. Perempuan yang berparas cantik diperkosa. Sedangkan perempuan yang berparas tidak begitu cantik disuruh berjalan telanjang.Tidak sedikit para perempuan etnis Tionghoa ramai-ramai dipaksa untuk telanjang kemudian diperkosa secara brutal disertai kekerasan fisik. Sebanyak sepuluh orang memasuki bank dan menutup bank tersebut. Para pegawai etnis Tionghoa dipaksa untuk telanjang kemudian disuruh menari-nari.

Di sebuah tempat Jakarta Utara, ada tiga anak perempuan berusia sekitar 10 sampai 18 tahun dari keluarga keturunan Tionghoa yan g kebetulan dari keluarga miskin diperkosa secara beramai-ramai. Setelah diperkosa korban ada yang dibunuh secara sadis, dalam kondisi hidup dilempar di kobaran api. Ada pula ketika korban mau diperkosa kemudian secara reflek korban bunuh diri. Korban yang berhaisl diperkosa tidak hanya diperkosa di vagina tapi juga disodomi.

Para pelaku kekerasan seksual jelas dilakukan secara berencana dan sistematis, bukan dilakukan oleh orang biasa, melainkan orang-orang yang sudah terlatih. Perilaku biadab mereka memiliki pesan politis yang tersirat yang intinya jika kalian mau meminta reformasi perubahan ke arah Demokrasi, maka ada yang harus kalian bayar untuk menebus keinginan itu yaitu mengorbankan kaum etnis Tionghoa sebagai target teror dan intimidasi. Tim relawan untuk kemanusian Divisi Perempuan sesungguhnya adalah tim relawan untuk kemanusiaan yang lebih besar yang dipimpin Romo Sandyawan. Tim relawan sudah melakukan identifikasi korban-korban kerusuhan yang jumlahnya mencapai 1333 korban. Betapa dari angka itu  perempuan dijadikan target atau obyek untuk mengintimidasi masyarakat lewat kekerasan seksual. Ini adalah state violence.

Wawancara wartawan Radio Nederland 
Kepada Ita Nadia, kordinator Tim Relawan Divisi Perempuan. 

Radio Nederland : 
Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada korban yang sampai saat ini belum atau tidak berani mengungkapkan apa yang menimpa dirinya?

Ita Nadia : 
Tolong jangan takut karena membuka kebisuan adalah membangun kesadaran. Breaking the silence. Para korban bisa langsung menghubungi nomor hotline 021-790 2109 atau 021-790 2112. Kami akan menjaga kerahasiaan baik para korban maupun informan. Sedangkan untuk masyarakat luar negri berilah dukungan kampanye untuk mengutuk perbuatan biadab ini. Bagaimanapun juga mereka para korban dari kaum perempuan etnis Tionghoa sejak awal sudah mendapat perlakuan diskriminasi dan sekarang mereka dikorbankan.

Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.rnw.nl/Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui ranesi@rnw.nl Copyright Radio Nederland Wereldomroep.

Mon Jun 8 12:50:52 1998
Date: Mon, 8 Jun 1998 17:40:07 +0100
From: RNW berita list manager
Reply-To: berita-request@RNW.NL


Pembantaian Ita Marthadinadia 
Adalah Teror Pembungkaman aktivis 

Ita Martadinata Haryono (lahir 1980, wafat di Jakarta Pusat, 9 Oktober 1998 pada usia 18 tahun) adalah seorang aktivis HAM Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius. Nama sesungguhnya adalah Martadinata Haryono, namun ia lebih dikenal dengan panggilan Ita Martadinata. Siswi kelas III SMA Paskalis berusia 18 tahun ini ditemukan mati dibunuh pada tanggal 9 Oktober 1998 di kamarnya di Jakarta Pusat.

Perutnya, dada dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat. Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan beberapa organisasi hak-hak asasi manusia lainnya mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan bahwa beberapa orang dari anggota tim ini telah menerima ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kaitan dengan Kerusuhan Mei 1998.

Pihak yang berwajib mengumumkan bahwa kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga kemudian ia membunuh gadis itu. Namun banyak pihak yang meragukan pernyataan ini. Apalagi menurut rencana Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, akan segera berangkat ke Amerika Serikat dengan empat korban Kerusuhan Mei 1998 sebagai bagian dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat tentang tragedi itu.

Ita dan ibunya diketahui cukup banyak terlibat dalam memberikan konseling kepada para korban kerusuhan tersebut.Karena itu Tim Relawan berpendapat bahwa peristiwa ini sesungguhnya dimaksudkan sebagai ancaman kepada mereka yang terlibat di dalam aktivitas kemanusiaan ini untuk menghentikan kegiatan mereka.

Media saat itu memberitakan bahwa jenazah Ita, siswi kelas III SMA Paskalis berusia 17 tahun, anggota tim Relawan untuk Kemanusiaan, ditemukan di rumahnya Jumat (9/10/1998) malam. Korban tewas akibat sejumlah tusukan benda tajam dan leher digorok.

Polisi telah menangkap seorang pria berinisial U, berusia 20 tahun, tetangga korban, yang dituduh membunuh Ita karena kepergok mau mencuri. 

Tim Forensik FKUI-RSCM Senin (12/10) pagi memeriksa bercak yang ada pada baju almarhumah Martadinata (18) guna memastikan apakah bercak tersebut sperma atau bukan. Ahli forensik, dr Munim Idries, yang mengotopsi korban, mengatakan, pemeriksaan pertama Jumat malam lalu menunjukkan bahwa bercak tersebut ada kemungkinan sperma atau zat lain.

"Dari tahapan pemeriksaan ultraviolet bercak tersebut mengalami flourosence sehingga bisa kesimpulan sementara, kemungkinan sperma. Namun, bisa jadi zat lain juga," katanya Senin (12/10/1998) pagi. Diharapkan dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pelaku sempat memperkosa korban atau tidak, kendati tersangka Su mengaku tidak melakukan pemerkosaan.

Menurut Munim, berdasarkan pemeriksaannya pada dubur terdapat bekas analseks dan selaput dara sudah robek sejak lama. "Perlu diteliti siapa pelaku analseks tersebut, sebab menurut pemeriksaan kegiatan analseks terjadi sejak lama,  dan  berulangkali sebelum pembunuhan," katanya. Dengan demikian, diharapkan dapat diketahui apakah pembunuhan ini ada kaitannya dengan peristiwa Mei lalu atau bukan.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Drs Noegroho Djajusman menegaskan lagi Minggu (11/10/1998) malam bahwa penangkapan tersangka dalam waktu relatif singkat bukan rekayasa, melainkan murni karena kerja profesional petugas.

Penegasan tersebut disampaikan, menyusul adanya banyak komentar yang menyangsikan soal penangkapan tersangka yang demikian cepat serta dugaan bahwa pembunuhan itu ada kaitannya dengan aktivitas keluarga korban sebagai relawan untuk kemanusiaan.

Puluhan warga Sumur Batu menyaksikan Otong, selalu duduk di dalam mobil minibus Kijang polisi. Warga menyatakan kaget, bahwa tersangka pelakunya adalah Su yang sehari-hari dikenal rajin dan suka membantu orang lain itu.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Mitra Perempuan, Rita Serena Kalibonso dalam pernyataan terbuka Senin (12/10/1998) menegaskan, peristiwa penyerangan terhadap seorang perempuan Indonesia di wilayah Jakarta Pusat pada hari Jumat (9/10) membuktikan situasi keamanan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, khususnya hak perempuan di negara ini masih memprihatinkan. 

Tampaknya, keselamatan perempuan di Indonesia semakin tidak terjamin dan kami menuntut agar aparat keamanan dan pemerintah serta masyarakat luas, tidak gegabah dalam mengungkap kasus kejahatan terhadap kemanusiaan ini. Kami menentang berlangsungnya kekerasan negara (state violence) di manapun terjadinya,'' ujar Rita Serena yang juga menyampaikan pernyataan duka yang mendalam atas peristiwa hari Jumat (9/10) itu.

Budayawan dan pengamat sosial, Dr Ikranegara menilai gerakan politik kekerasan yang berbau kriminal seperti yang dialami tim relawan kemanusiaan dan kasus Banyuwangi harus ditanggapi secara cermat oleh aparat keamanan, sejauh mana kandungan politiknya agar ABRI tidak lagi terpojok akibat opini publik yang seolah ABRI membiarkan kekerasan politik terjadi. 

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi masalah kekerasan terhadap perempuan, juga meminta agar pemerintah segera mengambil tindakan lebih jelas dan transparan dengan jaminan keamanan kepada para korban.

Direktur LBH APIK, Nursyahbani Katjasungkana, SH menegaskan terlepas dari motif yang ada dibalik peristiwa pembunuhan tersebut, pihaknya melihat kasus Ita merupakan bentuk teror dan kekerasan terhadap para aktivis hak asasi manusia khususnya para aktivis hak azasi perempuan.

Sumber: 


Para Pelaku Adalah Berseragam Militer
 
Organisasi-organisasi perempuan mendokumentasikan kekerasan seksual selama peristiwa huru-hara 13-14 Mei 1998 di Jakarta. Pemerintah akan menjanjikan penyelidikan dalam hal ini.Demikian yang dilaporkan oleh Juergen Dauth di Singapura.

Para pengamat Hak Azasi Manusia dan organisasi-organisasi perempuan di indonesia sudah mulai mendokumentasi kasus-kasus kekerasan seksual selama peristiwa huru-hara 13-14 Mei 1998. "Kerusuhan yang diwarnai pembakaran, penjarahan dan kekerasan seksual kepada para korban perempuan etnis Tionghoa di Jakarta adalah sistematis yang sudah direncanakan, dikendalikan dan disengaja,' demikian kata sita Kayam, aktivis perempuan pekerja sosial Sita Kayam. "Dan kami jadi yakin kalau ini semua bukan kebetulan. Semua kegiatan mempermalukan perempuan ini direncanakan dan diorganisasi dengan sekasama," lanjut Sita Kayam.

"Para pemerkosa itu mengatakan, "Sekarang giliran kamu, karena kamu China dan bukan Muslim", demikian kata seorang korban menurut psikolog Yayasan Kalyana Mitra. "Rumah saya dibakar kemudian saya bersama anak-anak menyelamatkan diri ke halaman. Saat itu datang beberapa laki-laki berbadan tegap mengenakan kaos dan celana seragam militer, mereka membanting saya ke tanah lantas saya diperkosa secara bergiliran. Setelah itu saya menyaksikan ketiga anak perempuannya juga diperkosa," cerita Helen Chang salah satu korban yang mengadu ke organisasi perempuan. 

Para perkerja sosial di klinik-klik psikologi dan organisasi-organisasi perempuan bersama-sama mendapatkan gambaran yang cukup serupa.Para pelaku berpotongan rambut ala militer dan mengenakan bagian-bagian dari pakaian seragam militer. Para psikolog di pusat-pusat pertolongan untuk korban perkosaan berusaha susah payah agar para korban yang trauma mau turut berbicara dalam kesaksian. "Kebanyakan para korban perempuan mengalami intimidasi kekerasan seksual dan mereka takut para pelaku balas dendam." kata Rita Kolibonso dari organisasi wanita Mitra Perempuan.

Komandan Polisi Jakarta Pusat, Lettu Iman Haryatnam telah meminta pada para korban kekerasan seksual untuk melapor. Panglima ABRI, Jendral Wiranto menjanjikan suatu penyelidikan dengan cara mengajukan rencana pembuatan pos-pos pengaduan. Para pelaku pemerkosa tampaknya tahu bahwa suatu penyelidikan tengah dimulai. Romo Sandyawan dari badan sosial katholik di Jakarta mendapat perlakuan teror berupa kiriman pos sebuah geranat tangan dan tulisan agar ia menghentikan kegiatan dokumentasi. Demikian juga tidak sedikit astivis LSM yang bergerak di bidang Hak Azasi Manusia mendapat teror berupa peringatan melalui telepon: "Kami sudah mengirimi Sandyawan sebuah granat. Kamu mau lebih banyak?" 

Romo Sandyawan sudah mempublikasikan data di antaranya para korban perempuan etnis Tionghoa yang diperkosa lantas dilemparkan ke dalam bangunan yang tengah dilalap api. Albert Hasibuan, anggota Komnas HAM bersumpah akan mengusut pelanggaran berat HAM ini sampai tuntas. "Kami tidak bisa membiarkan kejahatan biadab yang bertingkah laku lebih rendah dari binatang ini tidak mendapat hukuman."

Copyright A9 Frankfurter Rundschau 1998
Dokumen disiapkan pada 11.06.1998 jam .45
Tanggal penyiaran 12.06.1998 

Surat Terbuka Buat Para Penjarah

Redaksi Yth,

Para Perusuh dan penjarah yang terhormat, Tahukah kalian, temanku Lily tiga pekan lalu menelepon saya sembari terisak menceritakan pengalaman tragis yang menimpa keluarganya. Semuanya ludes tak tersisa kak, begitu ia mengawali kisahnya dari seberang sana. Aku terenyuh memikirkan nasib mahasiswi Atma Jaya itu. Ia bingung, cemas, takut, tak tahu lagi hendak berbuat apa. Lily takut, bingung. Kami semua, bokap dan nyokap, kini bersembunyi di rumah tante di Tanah Abang. Ruko kami di Kranji habis dijarah massa. Mereka tak menyisakan satu pun, selain pakaian di badan kami. "Tolong kak, selamatkan kami," isak Lily menutup telepon. 
 
Lily tentu saja tidak sendiri. Masih ada ribuan korban lain mengalami nasib serupa. Mereka kini diselimuti ketidakpastian. Masa depan mereka telah kalian jarah dan rampas.Tahukah kalian wahai para perusuh dan penjarah, tindakan kalian telah menyengsarakan kehidupan ratusan ribu, bahkan jutaan manusia lain yang mengharapkan sesuap nasi dari hasil pekerjaan halal. 
 
Tahukan kalian kalau saudara-saudara kita dari karyawan di salah satu super market di Tangerang sempat menggelar unjuk rasa, menuntut mengembalikan pekerjaan mereka yang telah pula kalian rampas?

Tahukan kalian banyak saudara kita yang mengantongi gaji bulanan standar UMR. Kalau kalian sempat nonton televisi, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita belum lama ini pun melaporkan besarnya jumlah pengangguran akibat ulah kalian? Menurut Ginandjar, sekitar 50.000 orang kehilangan pekerjaan karena tempat usaha mereka hancur kalian bakar dan jarah. 

Tahukan kalian sebetulnya masih banyak yang ingin saya ungkapkan. Tapi saya tak sanggup lagi. Bau bangkai manusia dan gedung, amis darah dan bubuk mesiu masih mengganggu penciumanku. Kepada aktor intelektual kerusuhan dan penjarahan saya minta satu hal hentikanlah manuver-manuver politik murahan dan bersimbah darah. 

Tahukah kalian kekuasaan yang dibangun di atas bangkai pengorbanan manusia lain bakal ambruk termakan bangkai-bangkai itu. Sadarlah.

Ngobert Nomen,
Kalimalang, Jakarta

Surat Pembaca di Harian Suara Pembaruan

Jum'at, 12 Juni 1998
 
 
Salam,
Joe Hoo Gi 
 
 
 
 


Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *