BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Rabu, 06 September 2017

Imajiner Bersama Aung San Suu Kyi


Joe Hoo Gi:

Dulu saya salah satu dari sekian juta pengagum Bunda ketika Bunda hadir sebagai social activist National League for Democracy (NLD)Masih selalu teringat dalam pikiran saya, betapa selama 15 tahun dalam pengasingan tahanan rumah, Bunda masih dapat memobilisasi massa dan menggelorakan semangat perjuangan pantang menyerah demi Pembebasan tegaknya Demokrasi dari kekuasaan rezim junta militer MyanmarSupport semangat Bunda kepada sistem demokrasi sikap perlawanan Bunda kepada rezim junta militer inilah yang telah banyak memberikan aspirasi perjuangan kami para aktivis Indonesia saat itu untuk dapat terbebas dari rezim militer Orde Baru. Perlu Bunda ketahui saja betapa sebagian dari buku yang Bunda tulis, salah satunya berjudul: The Voice of Hope: Conversations with Alan Clements yang terbit di tahun 2008 telah melengkapi kesempurnaan Bunda sebagai icon heroisme pembebasan terhadap rakyat tertindas oleh sistemik rezim otoriter. Tapi dengan perkembangan waktu setelah Myanmar mengalami proses transisi reformasi, terlebih setelah Bunda duduk di kabinet pemerintahan sebagai Konselor Negara, belakangan yang saya dengar, lihat dan baca dari berita kalau Bunda tidak dapat merawat kemanusiaan dan kebhinnekaan. Bunda telah melakukan pembiaran terhadap penindasan pada kaum sipil Rohingya.

Minggu, 03 September 2017

Mengkritisi Rohingya Secara Cerdas

Mari kita lebih cerdas, adil, netral dan proporsional dalam membahas akurasi yang berkaitan dengan insiden krisis kemanusiaan yang menimpa kaum sipil muslim Rohingya di Negara Myanmar. Memang sudah selayaknya kita support kepedulian aksi kemanusiaan kita kepada kaum sipil muslim Rohingya yang menjadi korban konflik separatis antara milisi Rohingya versus Rezim Myanmar. Tapi apakah kita sudah mencoba menggali akar persoalan krusial yang menjadi biang kerok dari insiden krisis kemanusiaan yang menimpa para korban kaum sipil muslim Rohingya?



Kamis, 31 Agustus 2017

Siapapun Sultannya, Jogjakarta Tetap Istimewa

Betapa sejak tahun 2011 pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden perihal keistimewaan Jogjakarta yang diangapnya sebagai sistem monarki yang bertabrakan dengan sistem demokrasi dan Konstitusi Negara sehingga menjadi polemik bumerang kegaduhan di tengah masyarakat merupakan awal tumbuhnya sikap kecemasan saya menyangkut masa depan Jogjakarta.



Minggu, 20 Agustus 2017

Menolak Lupa Kepada Malingsial


Masih ingat dalam pikiran saya ketika Malingsial (istilah plesetan untuk kuosa kata Malaysia yang telah melakukan pencurian atau klaim sepihak terhadap hasil karya kesenian dan kebudayaan Bangsa Indonesia) menginjak-injak harga diri sebuah Bangsa bernama Indonesia yang dimulai pada tahun-tahun sebelum 2009. Segala hasil kesenian dan kebudayaan para anak bangsa Indonesia mendadak secara sepihak diklaim oleh Malingsial sebagai hasil karya kesenian dan kebudayaannya. Dari mulai kerajinan Batik, kesenian Reog khas Ponorogo, kesenian wayang kulit, lagu daerah Rasa Sayange dari Maluku, tari Pendet dari Bali, tari Tortor dan alat musik Gordang Sambilan dari suku Mandailing Sumatera Utara, alat musik Angklung dan masih banyak yang lain. Bahkan masakan khas Padang seperti Rendang dan minuman Cendol pun diklaim sebagai hasil karya anak bangsa Malingsial.



Sabtu, 19 Agustus 2017

Hate Speech, Bullying dan Hoax Bukan Bagian Kebebasan Menyampaikan Pendapat


Semakin mendekati pilpres 2019, maka semaki banyak black campaign yang dilakukan oleh pihak yang berseberangan dengan pemerintah sekarang. Satu-satunya cara ampuh untuk melakukan black campaign di era cyber world seperti sekarang ini tiada lain melalui social media yang jangkauannya sangat-sangat luas tanpa batasan ruang dan waktu. Oleh karena itu tidak heran mengapa semakin banyak saja users/admins/pemilik accounts sosmed dan melakukan hate speech, bulling dan hoax berupa tulisan, gambar dan video yang modus operandinya tiada lain sebagai black campaign untuk persiapan sebelum pilpres 2019?



Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *